Sunday, July 28, 2013

Dari Masjidil Haram (Arab) ke Masjid Jogokariyan (Jogja)



Akhir Ramadhan 1434 H tahun ini sudah kami rencanakan jauh-jauh hari untuk bisa i’tikaf dan umroh akhir ramadhan dan sholat iedul fitri di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Terdorong niat salahsatunya karena hadits jika umroh akhir ramadhan pahalanya seperti haji bersama Rasulullah SAW. Persiapan sudah kita lakukan sekira bulan Mei 2013 (3 bulan yang lalu); mencari teman, tiket pesawat, visa, kain ihrom dll semua hal yang terkait. Akhirnya dapat satu biro travel di Jakarta untuk uruskan visa, karena visa umroh tidak bisa diurus individu. Bukan saya sendiri yang mengusahakan, teman yang uruskan semuanya, saya “numpang melu mikir” dan menyiapkan pembayaran.

Karena sudah diantrikan lama di embassy Arab di Jakarta, kami percaya bahwa visa confirm dapat. Kawan2 satu biro travel yang full ramadhan akhirnya dah berangkat. Dengan keterbatasan cuti, kami tetap minta akhir ramadhan saja, hari ke 16 ramadhan s.d hari ke-4 idul fitri (total pp 18hari). Umroh dah di depan mata. Persiapan sudah lengkap, ijin cuti sudah dapat, tiket pp ke Jogja sudah dapat, 2 koper tinggal angkat. Satu yang masih menunggu; visa.

Di detik-detik terakhir, 2-3 hari jelang keberangkatan, dukacita dimaklumkan bahwa kami tidak mendapatkan visa, karena pembatasan kuota umroh akhir ramadhan, akibat renovasi besar2an Masjidil Haram. Ya Allah, sungguh Engkau Maha Tahu apa yang terjadi dan tersembunyi, kami pasrahkan kepada-Mu keputusan yang terbaik.
 
Cuti saya dan istri dah approved oleh pimpinan, dah terbayang umroh, mood kerja sudah tidak ada, malas merubah cuti, tiket pp ke Indonesia sudah ada, malas beli tiket lagi, akhirnya kami putuskan tetap pulang Jogja dengan tiket yang sudah ada di tangan.

Sebagai gantinya I’tikaf di Masjidil Haram, atas rekomendasi beberapa teman, akhirnya saya I’tikaf di Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Salah satu tempat I’tikaf terbagus pengelolaannya yang pernah saya ikuti. Melalui I’tikaf inilah saya dapatkan kalimat penyejuk dari teman I’tikaf ; “haji/umroh itu panggilan Allah, jika belum bisa berangkat berarti memang panggilan belum sampai pada pak Nardi, ikhlaskan saja. Masalah di biro travel (jika ada) dan pembatasan kuota itu hanya cara Allah saja”

Di akhir perpisahan i'tikaf pula, para peserta dan panitia membentuk tim untuk mengusahakan i'tikaf dan umroh tahun depan di Masjidil Haram, semoga kesampaian, amin3x

No comments:

Post a Comment