Sekira 1.5 jam perjalanan, tibalah saatnya landing di Phnom Penh Airport, Cambodia. Pagi airport “berkabut” debu, setelah sebelumnya melihat pemandangan di bawah yang seolah datar semua, tampak dimana-mana hamparan luas sawah kering, demikian juga jarang tampak rumah2 penduduk.
Di airport, merasakan betapa tidak enaknya karena diplomasi Negara Indonesia lemah atau apa masalah sebenarnya saya gaktahu. Jika warga Malaysia langsung mendapat cop imigrasi, WNI mesti mengurus visa on arrival (padahal sesama ASEAN, inget dulu ke Belanda WNI juga mesti urus visa padahal 350 tahun kita dijajah mereka, sedang warga Malaysia bebas visa). Untuk di Kamboja, benernya gakpapa ngurus visa, cuma mbayarnya itu lho yang males hehe, USD 20/orang. Petugas lumayan ramah, wajah-wajah terasa tidak asing, cuma bahasanya asing banget gak paham.
Keluar airport, kami langsung disambut banyak tawaran kendaraan ke pusat kota (airport ke pusat kota Phnom Penh sekitar 30 km). Alhamdulillah, rate standard terhadap layanan kendaraan ini; taxi USD 12 dan tuk-tuk USD 7. Tuk-tuk, itulah kendaraan umum yang banyak dijumpai di Kamboja, kayak becak motor tapi penumpang di belakang. Setelah ambil kenangan foto, akhirnya kami naik tuk-tuk dengan sopir Mr King ke Cuty Centre Hotel di pusat kota Phnom Penh, hotel telah kita pesan via Agoda online sebelum terbang.
Sepanjang perjalanan sekira 30 menit, kami mesti sering-sering memegang dada karena kaged dan takut dengan lalulintas yang kami lalui. Beberapa ruas jalan serasa semrawut dan banyak sangat orang lalu lalang seenaknya, terutama motor dan tuk-tuk. Tapi seperti di Indonesia, akhirnya munculnya kearifan lokal; kuatkan toleransi karena tuntutan keadaan. Tapi jalan longgar dan mobil bagus banyak juga lho. Untungnya, sopir tuk-tuk kami baik dan ramah banget sehingga kami agak bisa menguasai keadaan.
Mr King banyak ngajak bicara, bahasa Inggrisnya bagus. Dia meyakinkan kami; di Kamboja jangan takut, kami sangat menghormati wisatawan, oleh kerajaan kami terutama sopir tuk-tuk telah diberikan kursus bahasa dan cara menyambut wisatawan sehingga nyaman di Kamboja, tak boleh menipu bayaran atau tujuan, dll. Alhamdulillah, tenanglah diri kami mendengarnya. Di perjalanan pula, dia menceritakan keluarganya, konflik Kamboja-Thailand, pengetahuan dia tentang Indonesia, dan taklupa dijelaskan apa-apa yang kita lewati; University, institute, rumah sakit bantuan Jepang, supermarket habis kebakaran, pasar, komplek militer, interest place, dlsb.
No comments:
Post a Comment